Oleh: Budi Wignyosukarto | Mei 1, 2008

Flood Management

Musim hujan sudah reda, kejadian banjir yang melanda tanah air masih belum kering dari ingatan kita. Kerusakan infrastruktur jalan, saluran irigasi, tanggul sungai, pemukiman dan daerah pertanian telah berpengaruh pada perkembangan ekonomi nasional.

Apa yang akan kita perbuat kedepan, menghadapi bencana banjir yang tentunya dapat terjadilagi dan lebih besar lagi. Sering diantara kita tidak pernah menghitung dengan benar faktor resiko yang diakibatkan oleh bencana-bencana yang menimpa kita. Risk = f (hazard, vulnerability). Vulnerability mencakup kerentanan ekonomi, sosial, lingkungan, infrastruktur. Kalau kita lihat reaksi masyarakat terhadap resiko banjir ini sangat kecil, dapat diartikan bahwa kita tidak memahami atau tidak peduli pada kerentanan kita sendiri. Untuk menurunkan resiko terhadap bencana, kita dihadapkan pada pilihan pada pengelolaan system yang mahal, dan ini jelas tidak dapat ditanggung oleh sebagian besar masyarakat kita yang ber-ekonomi lemah. Bagaimana kita mengatasi hal ini?

Kalau kita coba lihat ke Jepang, mereka mempunyai konsep manajemen yang mungkin dapat menjadi acuan bagi manajemen banjir di Negara kita. Upaya untuk memfasilitasi water retension area dan retarding area, merupakan suatu upaya untuk menurunkan koefisien runoff yang diakibatkan berubahnya penutup lahan dari lahan yang permeable menjadi impermeable. Di Negara kita sudah ada yang mengenalkan sumur resapan, lobang biopori dan lain sebagainya, namun belum diterima dengan baik oleh masyarakat luas

Comprehensive Flood Disaster Prevention Measures in Japan

(katsumi SEKI, Director of River Improvement and Management Division, River Bureau Ministry of Land, Infrastructure and Transport)

1. River Improvement :

  • Improvement of river channel (construction of dikes, dredging, etc.)
  • Construction of retarding basin, diversion tunnel, etc.

2. Basin Improvement Measures

Water retention area

  • Preservation of urbanization controlled area
  • Conservation of non-urbanized areas
  • Construction of storm water detention pond, etc.
  • Construction of storm water storage facilities
  • Provision of permeable pavements, infiltration inlets, etc.

Retarding area

  • Preservation of urbanization controlled areas
  • Restrictions on banking
  • Improvement of farming environment

Low-lying area

  • Construction/improvement of inner basin drainage facilities
  • Construction of storm water storage facilities
  • Encouraging construction of waterproof buildings

3. Flood Damage Reduction Measures

  • Establishment of flood warning and evacuation system
  • Enhancement of flood defense system
  • Official announcement of flooded areas and flood hazard areas
  • Encouraging construction of waterproof buildings
  • Publicity activities directed toward community residents


Tanggapan

  1. Di Negara kita sudah ada yang mengenalkan sumur resapan, lobang biopori dan lain sebagainya, namun belum diterima dengan baik oleh masyarakat luas

    ya itu masalahnya pak…
    mau bikin banjir kanal, retensi, ndak punya uang..
    bikin resapan yang murah ndak mau…

  2. Informasi yang menarik Prof. , mungkin akan lebih menarik kalau ada standar hitungan kelayakan implementasinya dengan memasukkan keuntungan dari penurunan dampak bencana dan keuntungan dari peningkatan daya dukung alam terhadap pemukiman.

    Salam hormat,


Beri tanggapan

Your response:

Kategori